Beberes Kampung Mangga Ubi
Posted on : 06-11-2011 | By : Irene Salomo | In : Ministry, Social
2
Dalam rangka Natal, gereja aku mengadakan rangkaian kegiatan Outbound Natal yang bertujuan supaya tiap jemaat bisa keluar membagikan berkat & kasih Tuhan khususnya pada orang-orang di luar gereja. Salah satu program yang aku ikuti adalah beberes Kampung Mangga Ubi pada hari Sabtu pagi kemarin. Kampung Mangga Ubi terletak di daerah Kapuk, kecamatan Cengkareng Jak-Bar. Lokasi perumahan warga di sana terletak dalam gang ekstra sempit, di atas saluran air dan pinggir kali yang bisa dibilang kumuh.
Lebih dari 90% warga daerah ini adalah pribumi, sebagian kecil lainnya CiBeng (Cina Benteng). Gerejaku bekerja sama dengan yayasan Lima Roti dan Dua Ikan yang sedang memulai pembangunan Life Centre di kampung ini.
Nantinya Life Center ini akan memberikan pelatihan-pelatihan u/para warga, sekaligus pendidikan TK u/anak-anak. Ada lebih dari 100 orang jemaat yang terlibat dalam program kemarin, sebagian besar adalah para remaja, pemuda, dan bapak-bapak.Aktivitas yang kami lakukan ada 4 macam:
- Mengeruk batu dan tanah, kemudian memindahkannya dari depan gang yang sempit ke lokasi pembangunan life center dengan menggunakan gerobak + cangkul. Yang pasti, ini cuma dilakukan oleh para bapak-bapak
| nah seperti ini gang sempit yang harus dilalui gerobak dan manusia |
| ini lokasi life center yang akan dibangun nantinya, hari ini para bapak membantu u/menimbun tanah dan batu-batuan. |
- Menyiapkan bahan-bahan pembangungan jembatan. Karena terletak di pinggir kali dan banjir adalah makanan sehari-hari penduduk Kampung mangga Ubi, jembatan menjadi fasilitas yang sangat penting bagi mereka. Sayangnya, jembatan yang mereka miliki juga sudah tidak memadai. Sehingga Yayasan Lima Roti dan Dua Ikan akan membangun jembatan yang lebih baik u/warga.
| Teman-teman sedang menyiapkan dan memotong bahan-bahan pembangungan jembatan, seperti bambu dan kayu. |
Tanah yang di luar batas beton itu adalah milik developer yang akan dibangun, jadi bayangkan saja bagaimana kondisi lingkungan daerah ini yang benar-benar sesak dan terancam penggusuran sewaktu-waktu.
- Memasak di dapur umum u/makan siang kami semua + penduduk sekitar. Menu makanan kami:
- Nasi
- Tahu goreng
- Tempe goreng
- Ayam goreng
- Perkedel
- Cincao
- Tumis kangkung
Aku sendiri awalnya membantu memetik kangkung yang jumlahnya luarrr biasa banyak, di tepi kali, seperti ini:
Gak lama kemudian ci yudith dari dalam dapur meminta aku u/bantuin kupas mentimun.Setelah itu, aku membantu u/memotong tomat & tempe, mengelap sendok dan garpu, kemudian balik lagi memetik kangkung yang ternyata masih belum selesai dipetik juga
Sewaktu bekerja dalam dapur, aku semakin menghayati bagaimana merendahkan hati dalam pelayanan ini. Terutama ketika sedang mengelap sendok dan garpu yang sebelumnya telah dicuci, tapi tetap terlihat agak berkarat dan dekil, begitu juga dengan pisau yang kami pakai, menurut warga itu karena air di sana agak kekuning-kuningan. Ditambah lagi, aku cuma dikasih 1 kain lap kering, bukan tissue yang bisa langsung diganti untuk mengelap 100an sendok dan garpu. Aku termasuk orang yang sangat ekstra mementingkan kebersihan dan higienitas. Ketika melihat kondisi pisau, sendok, garpu, dan piring yang jauh berbeda dengan yang biasa aku gunakan, hati benar2 galau, *meminjam istilah gaul sekarang
*, mulai berpikir gimana nanti pas makan siang ya? apa gak usah makan aja? nafsu makan juga langsung menurun saat itu. Tapi aku kembali diingatkan tujuan kehadiran kami adalah u/melayani warga dengan rendah hati, salah satu aplikasinya termasuk dengan mengalami sendiri bagaimana kehidupan mereka, meskipun cuma lewat hal-hal kecil seperti alat-alat makan ini dan cara hidup mereka dalam waktu setengah hari. Akhirnya aku tetap bisa menikmati makan siang dg nikmat.
Di dapur ini cuma ada 2 kompor, sehingga 2-3 orang ibu bergantian menggoreng ayam, tahu, tempe & tumis kangkung. Aku pun memanfaatkan waktu u/melihat-lihat kondisi rumah penduduk dan pekerjaan teman2 lainnya.
Bisa dibilang hampir semua rumah hanya memiliki luas sekitar 6×6 meter, lebih luas sedikit dari kamar aku. Padahal mereka rata-rata memiliki anak >2, bahkan ada yang anaknya sampai 7. Yang aku perhatikan, tidak semua rumah punya MCK alias toilet, perabotan mereka juga super sederhana, dari beberapa puluh rumah cuma ada 1 rumah yang memiliki komputer. Karena aku orang IT, PC ini jadi langsung menarik perhatianku.
- Mengecat rumah penduduk
| Hampir semua rumah terbuat dari kayu atau batu bata yang polos, jadi lewat pengecatan rumah, kami membantu memperindah rumah penduduk |
| Panitia menyediakan dua jenis warna cat – biru pastel dan hijau muda, kalau melihat merek catnya kelihatannya sih cat yang berkualitas |
| Setelah selesai di urusan dapur, aku iseng-iseng ikut membantu ngecat 2 rumah. |
Setelah jam 12 lewat, kami menyelesaikan semua pekerjaan dan makan siang bersama.
Waktu makan siang ini, teman-teman shift 2, yang baru datang juga ikut makan bareng. Setelah kami pulang, mereka kembali melanjutkan pekerjaan di Kampung Mangga Ubi.









